Tuesday, 19 July 2016

Mengenal Upacara Sipaha Sada Dalam Ajaran Ugamo Parmalim

Di Tanah Batak Provinsi Sumatera Utara, ajaran “ugamo Parmalim” masih memiliki kelompok yang teguh dan masih tetap menganut agama nenek moyang orang Batak, serta melestarikan upacara-upacara yang ada dalam ajaran kepercayaan agama Parmalim. Kalau kita kilas balik waktu sejarah, bahwa sejak dulu agama kepercayaan dari orang-orang Batak Toba, ajaran agama Parmalim ini tak pernah diakui oleh pemerintah dan sengaja pula diisolasi agar tidak berkembang ke luar daerah. Agama Parmalim ini berpusat di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (TOBASA). Berdasarkan sejarah dan cerita dari penganut agama ini, dahulunya Parmalim Hutatinggi adalah dirintis oleh Raja Mulia Naipospos (wafat pada tanggal 18 Februari 1956) dan saat ini Parmalim Hutatinggi dipimpin Raja Marnakkok Naipospos yang merupakan cucu dari Raja Mulia Naipospos.

Mengenal Lebih Dekat Upacara Ritual Sipaha Sada Dalam Ajaran Kepercayaan Agama Parmalim Hutatinggi Tobasa Sumut

Dalam rangka pelestarian adat istiadat yang ada pada ajaran agama Parmalim, maka untuk menunjang berbagai sarana dan prasarana melaksanakan kegiatan dan ritual keagamaan di kampung Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir (TOBASA) telah berdiri sebuah kompleks yang disebut “Bale Pasogit” (balai asal-usul) yang terdiri dari 4 (empat) bangunan utama, yaitu: 1). Bale Partonggoan (balai doa), 2). Bale Parpitaan (balai sakral), 3). Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan 4). Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur). Dimana bagi umat penganut agama Parmalim bahwasanya Bale Pasogit ini adalah merupakan Huta Nabadia (tanah suci). Semua bale ini didesain dengan motif batak asli yang sarat dengan arti khusus dalam sistem adat batak yang diaplikasikan dalam kekerabatan masyarakat suku Batak. Di kompleks ini, tiap 2 (dua) kali dalam setahun digelar upacara keagamaan besar yang disebut dengan 1). Sipaha Sada, yakni => sebuah upacara untuk menyambut tahun baru sekaligus demi memperingati kelahiran para pemimpin spiritual Parmalim, dan 2). Sipaha Lima, yakni => sebuah upacara syukuran atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi Nabolon. Kedua ritual upacara ini begitu penting artinya bagi seluruh penganut agama Parmalim di dunia, maka dari itu tak heran apabila jika tiap diadakannya ritual ini hampir seluruh penganut Parmalim baik yang ada di sekitar kompleks maupun dari luar daerah bahkan dari belahan dunia akan selalu menyempatkan diri untuk datang merayakan upacara ritual tersebut.

Dalam upacara Sipaha Sada ini, para penganut Parmalim disamping untuk menyambut tahun baru juga untuk mendoakan para raja-raja Parmalim terdahulu, sejak mulai dari Sisingamaharaja hingga raja-raja Parmalim yang sekarang, dan tak lupa pula untuk mendoakan para pemimpin di segala penjuru dunia yang dalam pemaknaan filosofis mereka disebut sebagai pemimpin dari 4 (empat) penjuru dunia dan 4 (empat) segi kehidupan. Untuk persiapan pelaksanaan upacara agung ini, umat Parmalim selama 2 (dua) hari sebelum dimulainya upacara Sipaha Sada akan melakukan ritual puasa selama 1 (satu) hari semalam tanpa berbuka puasa (selama 24 jam non stop) dengan sahur (awal puasa) dan berbuka dengan memakan makanan pahit yang disebut dengan “mangan napaet”. Mangan napaet ini adalah sebagai simbol dan sekaligus mengenang perjuangan hidup yang penuh dengan kepahitan dan kegetiran hidup Raja Nasiak Bagi, ketika menegakkan agama Parmalim di tanah Batak.

Bahan-bahan makanan dalam upacara Sipaha Sada ini adalah terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda dan sebelum disantap, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus hingga semua bahan melebur jadi satu.

Syarat Ikut Ritual Sipaha Sada
Untuk bisa mengikuti ritual upacara Sipaha Sada, maka para penganut Parmalim diwajibkan untuk mengenakan busana khusus sesuai dengan tingkatan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dimana kaum pria/laki-laki mengenakan pakaian jas berselempang ulos batak dari jenis ragi hotang dan sarung ulos dari jenis bintang maratur. Bagi pria yang sudah menikah, maka akan menggunakan sorban yang disebut tali-tali berwarna putih menandakan kesucian. Pemimpin umat menggunakan tali-tali berwarna hitam yang menandakan kepemimpinan dan tanggung jawab. Sedangkan untuk kaum wanita/perempuan diwajibkan mengenakan sarung (ragi) yang berbentuk ulos dari jenis runjat, kebaya, selendang (hande-hande) dari jenis yang bervariasi, yaitu sadum, bintang maratur dan mangiring, dan tatanan rambut yang menggunakan gaya sanggul toba, yakni gaya menyanggul yang digulung ke dalam.

Warna-warna yang digunakan dalam busana sebagaimana tersebut diatas, selaras dengan filosofis masyarakat Batak itu sendiri terhadap berbagai warna, misalnya warna hitam memiliki makna => kepemimpinan dan tanggung jawab, warna merah mengandung arti sebagai => ilmu pengetahuan dan juga kekuatan, serta warna putih sebagai perlambang memiliki => kesucian. Penggunaan 3 (tiga) warna ini, selain menjadi warna pakaian dan ulos, juga terlihat sangat jelas dari desain pada rumah adat Batak.

Nah, tepat tengah hari upacara akan dimulai yang ditandai dengan datang atau masuknya Raja Ihutan, yakni pimpinan spiritual umat Parmalim ke Bale Partonggoan. Di dalam balai ini telah disiapkan berbagai sesajen yang disebut pelean, berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak yang dikenal dengan nama jurung), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa atau kemenyan. Lazim, dalam pelaksanaan tradisi adat Batak kuno, bahan-bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih, meski tidak wajib melainkan kemampuan orang yang melakukan upacara. Pelean yang wajib harus urapan, air suci dan dupa. Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) Bale Partonggoan secara berantai. Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean. Setelah ritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin upacara Sipaha Sada yang berlangsung dengan hikmat dan menghabiskan waktu sekitar 5 (lima) jam lamanya, meliputi penyembahan dan kotbah dari Ihutan. Malam harinya acara dilanjutkan dengan pesta muda mudi para pengikut ajaran agama (ugamo) Parmalim.

3 comments:

  1. Mohon diedit, banyak kata parmalim ditulis menjadi parmaling. Sangat mengganggu

    ReplyDelete
  2. Mohon dikoreksi, banyak kata parmalim ditulis menjadi parmaling. Sangat mengganggu

    ReplyDelete
    Replies
    1. sdh kami perbaiki ...
      terima kasih atas atensinya ...
      horas ...

      Delete